Beli Buku Sekarang---Daftar Isi---Gabung Di FB---Judul Pidato---Tips Pidato Memukau---Pidato Gratis
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Inilah Pidato Upacara yang Berdaya Gugah?Klik sekarang disini
---------------------------------------------------------

Sekarang Bantu Seorang Teman Dapatkan Pidato Terbaru, Tulis Email Anda Disini!

Rabu, 25 Mei 2011

Keluarga Tempat Pertama Untuk Bersosialisasi

Tema pidato : Kenakalan Remaja
Judul pidato : Keluarga Tempat Pertama Untuk Bersosialisasi
Pelaku pidato : Bapak Guru


Yang terhormat bapak kepala sekolah
Yang terhormat Bapak/Ibu guru
Yang terhormat staf tata usaha sekolah
Yang Bapak banggakan anak-anak ku siswa SMK 12 Jakarta

Pada kesempatan yang membahagiakan ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan penyertaan-Nya sehingga kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul pada hari ini.

Anak-anakku yang bapak cintai
Ada sesuatu yang sangat mengkhawatirkan bagi kita semua. Saat ini, tingkah laku sebagian anak-anak seusia semakin tidak terkontrol. Banyak remaja putra yang lebih senang menghabiskan malam minggu di diskotek dengan mabuk-mabukan atau bermain game sampai menginap di warnet.

Remaja putri pun banyak yang terkena silaunya ‘dunia gemerlap’ itu. Beragam masalah tersebut membuat kita tidak lagi heran apabila ada orang tua yang mengeluhkan sikap anaknya. Keluhan para orang tua ini wajar-wajar saja karena keluhan mereka didasarkan atas kekhawatiran mengenai masa depan anaknya.

Mungkin teman-teman menilai contoh kenakalan remaja yang saya sebutkan tadi terlalu fantastis dan tidak sesuai dengan kehidupan teman-teman.

Oleh karena itu, mari kita ambil sebuah contoh keluhan orang tua yang kerap kita dengar pada waktu penerimaan rapor. Setelah melihat rapor anaknya yang biasa-biasa saja, seorang ibu mengatakan “Duh, anak saya nakal sekali. Sering membolos sampai-sampai banyak angka nol di ulangannya.” lalu sampai di rumah biasanya si ibu akan meneruskan keluhannya kepada si anak, “Coba kalau kamu seperti Daniel itu, pintar dalam olahraga dan pelajaran.”

Coba teman-teman sekalian berpikir, bagaimana perasaan si anak? Si Ibu benar dalam hal kekhawatirannya akan masa depan si anak. Akan tetapi, kata-kata yang ibu itu ucapkan sungguh akan menghancurkan mental si anak, apalagi jika diucapkan berulang-ulang selama bertahun-tahun.

Jika dibanding-bandingkan begitu terus, siapa yang tidak rendah diri? Si anak kemudian merasa ia adalah orang gagal yang tidak akan pernah berhasil dan tentu saja, dengan memelihara pikiran itu, si anak akhirnya sungguh tidak akan pernah sukses.

Setelah beranjak dewasa, si anak mungkin telah mencapai aktualisasi diri yang optimal dan berhasil mengusir segala pemikiran negatif yang telah mengendap sejak kecil. Namun, resiko terburuknya, apabila si anak tidak dapat mengusir pemikiran negatif akibat tindakan ibunya itu maka ia akan menjadi pribadi yang labil akibat tidak memiliki rasa percaya diri.

Si anak akan mudah putus asa bila menghadapi kegagalan dan akhirnya mudah terjerumus pada hal-hal yang negatif. Kalau sudah jadi begini, siapa yang disalahkan orang tua? Tentu saja, si anak lagi. Kalau tidak, ya gurunya. Kadang orang tua tidak menyadari bahwa setiap tindakan yang mereka lakukan merupakan dasar terbentuknya sifat-sifat si anak. Namun, boleh jadi, kenakalan putra-putri mereka adalah akibat dari kesalahan orang tua dalam proses sosialisasi di masa kecil. Apa itu sosialisasi, teman-teman?

Sosialisasi merupakan suatu proses dimana seseorang mempengaruhi orang lain karena adanya interaksi. Orang yang saling berhubungan dan mempengaruhi orang tersebut berperilaku disebut agen sosial.

3 agen sosial terpenting adalah orang tua, saudara kandung dan kelompok bermain. Setiap agen sosial tersebut akan menentukan perbedaan dalam proses sosialisasi anak. Pengaruh paling besar selama perkembangan anak pada lima tahun pertama kehidupannya terjadi dalam keluarga.

Orangtua, khususnya ibu, mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak karena kepribadian orang tua sangat besar pengaruhnya pada pembentukan pribadi anak.

Menurut hasil penelitian di Amerika menunjukkan bahwa seorang ibu yang memperlakukan anak dengan kasar, baik fisik maupun verbal akan menghasilkan pribadi anak yang cenderung kasar. Oleh karena itu, untuk menghasilkan individu yang berkualitas baik, keluarga amat berperan dalam mensosialisasi nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat dimulai dari masalah kecil yang terjadi dalam keluarga sesuai tahap perkembangan usia anak.

Mungkin sebagian dari teman-teman ada yang telah mengetahui sosialisasi, tetapi mungkin teman-teman masih asing mengenai bagaimanakah proses sosialisasi itu terjadi pada anak dan apa yang harus dilakukan pihak keluarga? Ada 3 hal yang sangat penting, yang dapat menentukan pribadi anak-anak dan juga masa depan mereka yaitu :

o Pengkondisian

Anak ialah manusia yang pasif dalam sosialisasi, jadi sebagian besar tingkah lakunya diciptakan oleh orang tua melalui proses ini. Anak akan mempertahankan perilaku tertentu bila apa yang dilakukan mendapat imbalan. Sebaliknya, anak akan menghindari perilaku tertentu bila ternyata apa yang diperbuat akan mendapat hukuman.

o Permodelan / Imitasi

Jika sekedar meniru aspek luar, proses imitasi akan berlangsung cepat. Sebaliknya, jika anak menginginkan dirinya identik dengan tokoh idolanya, peniruan akan lebih mendalam sehingga di sini orang tua dan keluarga perlu memberi contoh perilaku yang baik bagi anaknya.

o Internalisasi

Cara mempersyaratkan anak dengan sukarela untuk menyadari bahwa ada berberapa hal (seperti norma, nilai dan tingkah laku) memiliki makna tertentu yang berharga bagi dirinya atau bagi masyarakat kelak untuk dijadikan pedoman atau tindakan yang lama kelamaan akan menjadi bagian dari kepribadiannya.

Teman-teman yang berbahagia, pengalaman sosialisasi anak pertama kali diperoleh di dalam rumah maka keluargalah yang paling tepat menentukan terjadinya proses sosialisasi. Teman-teman sekalian, meskipun kita masih belum berkeluarga dan memiliki anak sendiri, tetapi bila kita telah berkeluarga nanti, janganlah teman-teman lupa melupakan hal ini. Sebab, sosialisasi merupakan dasar dalam rangka membentuk pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, kreatif dan hormat. Dan jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena hal ini menentukan masa depan anak-anak kita.

Teman-teman sekalian, sekian pidato yang saya sampaikan pada hari ini. Saya mohon maaf apabila ada perkataan saya yang kurang berkenan di hati teman-teman. Saya sangat berterima kasih atas partisipasi teman-teman dan informasi ini dapat menyiapkan pemahaman teman-teman ketika sudah waktunya berkeluarga nanti. Sekian dan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar